Kamis, 15 Desember 2016

Analisis Novel Magic Hour : Let in the unexpected

Analisis Novel Magic Hour : Let in the unexpected

Identitas Buku
Judul buku : Magic Hour : Let in the unexpected
Penulis : Tisa TS dan Stanley Meulen
Penerbit : Loveable
Cetakan : Pertama
Ukuran buku      : 12,7 cm × 20,5 cm
Jumlah halaman    : 229
Tahun terbit   : 2015 

Sinopsis
Novel ini menceritakan seorang gadis bernama Raina. Ia lebih suka dipanggil Rain karena ia sangat menyukai hujan. Rain adalah anak panti asuhan yang diangkat anak oleh Tante Flora, Ibu Gwenny. Rain dan Gwenny sangat akrab, mereka sudah seperti sahabat bahkan saudara kandung.
Suatu waktu, Tante Flora meminta Gwenny untuk bertemu dengan seorang pria yang bernama Dimas. Ia ingin menjodohkan Gwenny dengan Dimas yang merupakan anak dari sahabatnya. Tetapi Gwenny menolak untuk bertemu dengan Dimas dan menyuruh Rain untuk menggantikan dirinya untuk bertemu dengan Dimas.

Berawal dari berpura-pura sebagai perempuan yang dijodohkan dengan Dimas. Rain justru jatuh cinta dengan Dimas. Dan saat bersama Dimas, ia merasakan sesuatu yaitu momen dimana penuh keajaiban seperti magic hour  yang mampu melepas semua rasa kesedihannya. Seiring berjalannya waktu mereka saling jatuh cinta. Namun, rasa cinta yang dialami Rain membuatnya bimbang, karena Gwenny yang tidak lain adalah sahabat Rain, mengaku jatuh cinta dengan Dimas setelah Gwenny bertemu dengan Dimas, lelaki yang dijodohkan dengannya itu. Di lain sisi, Rain juga terkejut akan pernyataan cinta dari sahabatnya yaitu Toby kepada dirinya. Rain tak ingin kehilangan Toby yang senantiasa menjadi perlindungannya sejak kecil. 
Tapi dari Dimas, ia belajar mengenai cinta sejati, kedatangan Dimas dihidupnya bagaikan magic hour  begitu pula dengan Dimas yang punya semangat hidup lagi setelah kehadiran Rain. Hingga sebuah rahasia terkuak, dimana Rain menemui kenyataan bahwa Dimas adalah penyebab kecelakaan yang terjadi pada dirinya yang merenggut penglihatannya.
Terkadang kita harus melalui kegelapan untuk menghargai indahnya cahaya, magic hour, satu cinta untuk selamanya.





Unsur Instrinsik
  • Tema
Tema dalam novel Magic Hour : Let in the unexpected ini adalah tentang percintaan, persahabatan, serta pengorbanan.
  • Latar
  1. Tempat :
  • Toko bunga Flora Florist
Gwenny akhirnya mulai melangkahkan kakinya, beranjak keluar, terburu-buru meninggalkan Flora Florist.
  • Panti Asuhan
  • Raina memang hanya seorang anak panti asuhan.
  • … karena Raina ditemukan penduduk sekitar panti hanyut di dalam keranjang,…
  • Rumah sakit
Setelah itu, ia pun berlalu dari ruangan UGD, meninggalkan raina sendirian.
  • Restoran “MA PETIT”
Raina menatap tulisan di atas pintu masuk restoran dari dalam taksi.
MA PETIT
  • Coffee shop
Di sebuah coffe shop ternama di bilangan Jakarta.
  • Taman
Di taman, Raina dan Dimas tengah mengobrol, mendadak gerimis turun.
  • Pasar Malam
Di pasar malam, Raina terlihat sedang mencoba berbagai permainan untuk membunuh waktu.
  • Dermaga
Ia dan Dimas tengah (kembali) menghabiskan senja mereka di dermaga kayu favorit Raina.
  • Kawah Ijen
Ia dan dimas sudah berada di Kawah Ijen.
  1. Waktu :  Pagi, siang, sore, dan  malam.
  2. Suasana : Bahagia, sedih, terharu, dan tegang.

  • Penokohan dan Watak
  1. Raina : Baik hati , pekerja keras, sabar, penurut, dan penyayang.
  2. Dimas : Baik, sopan, penurut, penyayang, dan bertanggung jawab.
  3. Toby : Penyayang, dan pekerja keras.
  4. Gwenny : Baik, manja dan keras kepala.
  5. Tante Flora: Penyayang, baik hati, dan cerewet.
  6. Badrun : Humoris
  7. Anisa : Baik
  8. Tante Cindy : Baik
  9. Gilda : Baik
  10. Raka : Baik

  • Alur
  1. Pengenalan
Gadis kecil itu bernama Raina. Ia lebih suka dipanggil Rain karena ia sangat menyukai hujan. Ketika hujan turun, Ia sering menari dan berdansa di bawah guyuran air hujan. Baginya hujan itu indah. Meski beberapa kali kakinya terpeleset.
Raina adalah anak panti asuhan yang diangkat anak oleh Tante Flora, Ibu Gwenny. Rain dan Gwenny adalah saudara tiri meski begitu, mereka sangat akrab sudah seperti sahabat bahkan saudara kandung.
  1. Timbul Masalah
Tante Flora meminta Gwenny untuk bertemu dengan Dimas. Ia ingin menjodohkan Gwenny dengan Dimas yang merupakan anak dari sahabatnya. Gwenny merasa keberatan dengan perjodohan ini sehingga ia menolak untuk bertemu dengan Dimas dan meminta Raina untuk menggantikan posisinya untuk bertemu dengan Dimas. Ketika ingin bertemu Dimas, Rain mengalami kecelakaan. Lalu, ia dibawa ke rumah sakit. Setelh ditangani, Raina pun sadarkan diri.
  1. Konflik
Seiring berjalannya waktu, Raina dan Dimas menjadi semakin dekat. Hari hari mereka menjadi semakin seru dan berwarna. Raina dan Dimas saling jatuh cinta. Bagi Raina, saat bersama Dimas, ia merasakan sesuatu yaitu momen dimana penuh keajaiban seperti magic hour yang mampu melepas semua rasa kesedihannya.

  1. Klimaks
Tetapi cinta Raina terhadap Dimas, justru membuatnya bimbang, karena ada cinta lain yang menantinya sejak kecil yaitu dari sahabatnya, Toby. Toby sendiri senantiasa  menjadi sosok pelindung bagi Raina. Raina tak ingin kehilangan sahabatnya tersebut. Tapi Dimas juga bukan orang yang tepat untuknya karena Dimas sudah dijodohkan oleh saudara tirinya yaitu Gwenny.
Saat Ibu Dimas dan Tante Flora membicarakan pernikahan, Dimas langsung membuka pembicaraan tentang ia dan Raina. Tante Flora, Gwennya, dan Ibu Dimas tercengang dan kesal pada mereka berdua. Gwenny terlihat marah besar dan ia mencaci Raina, tiba-tiba Raina pingsan dan tak sadarkan diri.
  1. Peleraian
Raina langsung dibawa ke rumah sakit. Dokter memvonis Raina buta. Setelah seminggu dirawat, Raina diperbolehkan pulang. Toby menghampiri Raina sebab ia ingin mengakui kesalahannya. Ia pun menyalahkan dirinya sendiri yang sudah membuat Raina buta.
Raina mendapatkan pendonor mata dan ia  akan segera melihat. Raina dapat melihat kembali. Sesaat ia teringat Dimas yang seakan menghilang.
  1. Penyelesaian
Raina dan Dimas kembali menghabiskan senja di dermaga kayu favorit Raina: Tapi ada yang berbeda dari Dimas, ia malah mrngajak Raina pulang ketika hujan rintik turun. Raina mulai merasa bahwa itu bukan Dimas.
Tak disangka Toby malah berbalik mencintai Gwenny. Begitu pula Gwennya dapat menemukan sosok pangeran yang menggantikan Dimas. 
Di kawah ijen, keduanya menandang langit menikmati magic hour dari tempat yang berbeda. Langit sebentar lagi akan gelap, yang berarti magic hour  mereka akan hilang hari ini. Tapi bagi mereka hanya satu yang tidak akan hilang yaitu cinta dan itu satu untuk selamanya.
  • Gaya bahasa
Bahasa yang digunakan dalam novel ini yaitu menggunakan bahasa yang tidak baku (menggunakan bahasa sehari-hari) agar mudah dimengerti oleh pembaca. Terdapat beberapa bahasa yaitu bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Sunda.
  • Amanat
Amanat yang terkandung dalam novel ini yaitu mengenai kehidupan. Kita dalam menjalani hidup ini harus memiliki ketegaran dan ketulusan hati. Kita juga harus tabah dalam menghadapi segala cobaan dan dapat mengambil hikmah dari setiap cobaan tersebut agar kehidupan kita menjadi lebih baik lagi.
  • Sudut pandang
Sudut pandang yang digunakan novel ini yaitu sudut pandang orang ketiga.

Unsur Ekstrinsik
  1. Nilai moral
Nilai moral pada novel ini yaitu bertanggung jawab terhadap apa yang telah kita lakukan.
  1. Nilai sosial
Nilai sosial dalam novel ini yaitu rasa kesetiakawanan yang begitu tinggi. Hal itu dibuktikan antara tokoh Toby dan Raina.
  1. Nilai adat istiadat
Nilai adat istiadat dalam novel ini digambarkan oleh tokoh Raina yang merupakan seorang penghantar bunga yang selalu menggunakan sepeda jenis BMX berwarna putih untuk mengantarkan bunga.
  1. Nilai agama
Nilai agama pada novel ini tergambar saat Gwenny berulang tahun. Ia dan mamanya berkunjung ke panti asuhan untuk berbagi kebahagiaan dengan memberikan barang yang dibutuhkan oleh panti asuhan seperti baju, alat tulis, buku-buku dan lainnya untuk para penghuni panti.









Tentang Penulis
TISA TS
Lahir dan dibaptis dengan nama Georgia Patricia Titi Sari. Secara kebetulan, ngarang “nama panggung” Tisa TS, karena itu nama simpel aja. Ternyata, nama yang membawa keberuntungan untuk karier penulisan.
Lahir dari pasangan Raden  Laurentius Moerdawanto dan Maria Fransiska, anak pertama dari dua bersaudara ini sudah melahirkan sejumlah karya dalam bentuk layar lebar dan sinetron serial, diantaranya, Di Sini ada Setan, Kenapa Harus Inul, Inikah Rasanya, Dina dan Lisa, Istri untuk Suamiku, Sayangi Aisyah, Rindu-rindu Asmara, Kapan Kita Pacaran Lagi, Pengen Jadi Bintang, Ronaldowati Season 2, Buku Harian Baim, Arti Sahabat, Gol-gol Fatimah, Cinta Salsabila, Cinta Bersemi di Putih Abu-abu, Cinta Monyet di SMA, Love in Paris, Jangan Mau-mau, Diam-diam Suka, Magic Hour, dan ratusan judul FTV.
Tisa, bahkan menulis lirik lagu untuk sinetron dan film lebarnya, seperti lagu berjudul Cinta yang Hilang, My Lucky Charmed, Cinta Tak Pernah Gagal, dan Rain. Kini, ibu dari Tiara, Tj, dan Loly ini, dikontrak secara ekslusif oleh rumah produksi Screenplay Production.

STANLEY MEULEN
Penulis novel Me and You versus The World, We versus The World, Beda Tapi Cinta, Forever Sunset, Cabe-cabean the Untold Stories, dan berkolaborasi dengan Piyu Padi dalam pembuatan novel sesuatu yang Indah Aktivitasnya sekarang, menjadi freelancer di sebuah perusahaan penerbitan dan aktif dalam kegiatan menulis.
Novel pertamanya, Me and You versus The World, sudah tayang di bioskop April 2014. Selanjutnya, novel Sesuatu yang Indah akan segera diangkat juga ke layar lebar.  


ANALISIS CERPEN "BUKAN HANYA UNTUK KAKEK"


BUKAN HANYA UNTUK KAKEK
Udaranya panas. Matahari begitu bersemangat memancarkan sinarnya. Sesekali awan bersatu, dan tak lama kemudian merubah warnanya yang semula putih cerah, menjai putih keabu-abuan. Lalu ia menangis, memancarkan airnya melewati sungai yang diragukan keaslianya. Begitulah suasana yang terjadi akhir-akhir ini.
“Tera sudah berapa kali Ibu bilang? Jangan ambil plastik dan sebangsanya itu di sungai. Itu kotor nak!” Kata wanita setengah baya yang sangat memperhatikan kesehatan Tera, anaknya yang baru berusia 15 tahun itu.
Mendengar nasehat Ibunya, hanya menunduk. Mendengarkan namun tidak melaksanakanya. Terkesan seperti anak tidak tahu aturan bukan?
           Hari terus berganti. Namun tetap keadaan tak pernah berganti. Kebetulan rumah Tera tak jauh dari sungai yang memiliki air berwarna hitam, dan memiliki fungsi papan untuk bangsa sampah. Hari ini ia tak lagi memungut sampah, hanya saja mencoba untuk merubah sampah menjadi sesuatu yang berharga. Dengan siapa lagi? Jika tidak dengan kakek tua yang tinggal di kolong jembatan, dan keseharianya hanya memungut lalu mendaurnya, jika tidak menjualnya dengan harga yang sangat tipis.
“kakek punya mimpi waktu dulu masih seusia kamu Cu!” Ucap kakek sembari menganyam bungkus kopi yang telah dibentuk menjadi persegi panjang.
“Apa itu kek?” Tera penasaran.
Sejenak kakek bernafas, lalu meletakan anyaman bungkus kopi dan memandang Tera dengan penuh kasih sayang seperti sudah menjadi cucunya.
“Kakek ingin membuat pameran” Kata kakek serius
Tera tertawa “Sejak kapan kakek bisa melukis?”
“Heee, apa pameran hanya berlaku untuk lukisan Cu?”
Tera terdiam “Lalu, pameran apa yang kakek maksud?”
Kakek tersenyum “Kakek ingin membuat pameran suatu karya yang dulu sebelum berubah sangat tidak diinginkan kehadiranya.”
Sejenak Tera mengerutkan dahinya, berfikir apa yang dimaksud kakek. Sementara kakek lagi-lagi tersenyum walau giginya dapat dihitung dengan jari.
“Tolong capai mimpi kakek ya!”
Tera mengangguk pelan walau sebenarnya ia tidak mengerti apa yang dimaksud kakek.
Tera berjalan mengendap-endap lalu membuka pintu kamar dengan penuh kehati-hatian seolah sedang ingin mencuri sesuatu.
“Tera! Kamu kemana saja sih? Katanya mau nemenin Ibu ke DTC?” Teriak Ibu
“Iya bu. Mau ganti baju dulu.” Bergegas ia berganti baju. Kemudian pergi dengan Ibunya.
Tera berjalan menggandeng tangan Ibu seperti balita yang takut lepas dari Ibunya. Ibu melirik kesana kemari mencari apa yang dicari.
“Itu kayanya bagus.” Ibu melepas gandengan tangan membenahi tasnya dan menuju kios baju batik. Sementara Tera berjalan santai didepan kios itu. Pikiranya kosong, tidak memikirkan apa apa termasuk alasan mengapa ia tak masuk bersama Ibunya. Tera melihat kesana kemari kemudian pandanganya beralih kebawah. Ditemukan selebaran yang menggugah selera Tera untuk membacanya. Ia mengambil dan membaca selebaran yang berisi tentang akan diadakanya lomba pameranantar SMA di sebelah Taman Bungurasih. Tiba-tiba seolah muncul bola lampu yang sangat terang di otak tera
Keesokan harinya, Ia mengonsep dan mendaftarkan kelompoknya untuk mengikuti lomba pameran karya seni bebas dengan ke-5 sahabatnya. Dengan waktu satu hari mereka mengubah barang yang sangat tidak berguna menjadi barang yang unik dan tentunya bermanfaat.
           Hari ini saatnya pameran dimulai. Pameran ini diikuti oleh 25 SMA. Masing-masing peserta diberi ruangan yang dibatasi oleh sekat-sekat triplek. Disini peserta bebas mengekspresikan karyanya. Tentunya dari 25 peserta yang ada, banyak sekali karya yang di pamerkan. Hanya saja dari sekian banyak peserta tentu hanya satu yang akan tampil sebagai pemenang. Penjurian dilihat dari kekreatifitas dam manfaatnya.
           Kini tiba saatnya pengumuman juara. Tera menggenggam tangan sahabatnya, berdoa dan berharap ia akan tampil sebagai pemenang.
“Juara pertama atas komunitas cinta lingkungaann. Dimohon untuk perwakilan menuju ke atas panggung untuk menerima hadiah.”
Sorak sorak pengunjung mengiringi langkah Tera menuju panggung. Perasaan senang dan takut menyelimuti perasaan Tera. Senang karena ia tampil sebagai pemenang dan takut melihat Ibu berjalan mengahmpirinya. Tera tidak meminta izin ibu untuk mengikuti pameran ini, karena ia takut Ibu akan melarangnya.
“Ibu bangga sama kamu Nak. Anda ibu tahu alasan kamu sering berhubungan dengan sampah dan kakek itu, Ibu pasti akan mendukung.” Ibu memeluk Tera dengan penuh bangga.
“Kakek?” Tera teingat dengan kakek tua itu. Tanpa menunggu aba-aba, Tera melepas pelukanya.
“Ibu, Tera izin bertemu kakek!” Tera langsung berlari menuju kolong jembatan yang kebetulan tidak jauh dengan tempat pameran. Sambil membawa piala, ia berteriak
“Kakek! Tera bisa meneruskan impian kakek!” Tera begitu senang dan bangga atas prestasinya yang diraih mendadak itu. Hingga langkahnya berhenti, heran kenapa dijalan terdapat orang ramai berkumpul. Perlahan Tera berjalan dan mengintip apa yang sedang dikerumuni banyak orang?
Dan ternyata
“Kakek?” Hatinya tersentak melihat kakek yang selama ini mengajarinya mendaur ulang tegeletak berlumur darah. Keluarlah air di mata. Lutut Tera lemas, tak lagi bisa menopang tubuhnya. ia masih tak percaya, Tera duduk lemas memandangi kakeknya yang masih tetap tersenyum memandang wajah mungil Tera.
“Kakek lihat, Tera bisa mewujudkan impian kakek.” Tera menangis, sambil memeluk Kakek. Kakek hanya tersenyum dan berusaha membuat Tera tenang. Tangan kakek mencoba memegang piala. Tera mengusap air matanya.
“Tera Janji ya. tidak hanya mendaur ulang sampah untuk meraih piala ini. Tapi daurlah sampah untuk menyelamatkan bumi kita. Tapi daurlah sampah untuk menyelamatkan bumi kita. Karena bumi sudah banyak memberi kita Cu. Alam yang indah, air, udara semuanya. Sekarang siapa lagi yang mau menjaga bumi jika bukan kita? Yaa..”
Kakek lagi lagi tersenyum.
“Tera janji kek. Bukan hanya untuk kakek, tapi juga untuk bumi.” Tera menangis.
“Cup..cup. cup Tera tidak cengeng. Tera ikhlas!” Kemudian perlahan kakek menghembuskan nafas terakhirnya.
ANALISIS
  1. Tema : Lingkungan
  2. Amanat :- Terbukalah dengan orang tua, karna orang tua tahu apa yang terbaik buat kita.
- Lindungilah bumi kita dengan menjaga lingkungan tetap bersih.
- Usaha maksimal akan membuahkan hasil yang besar
  1. Latar : Tempat :-Pinggiran sungai
  -Rumah Tara
  -Rumah kakek
-Mol (DTC)
  -Pameran
  Waktu : Siang hari
   Suasana : Mengharukan
  1. Sudut pandang : Orang ketiga
  2. Tokoh/Penokohan: Tera (Nakal dan susah dilarang, ia optimistic dan baik
        Ibu (overprotective)
        Kakek (Baik, mempunyai ego yang tinggi)
  1. Alur : Maju ( Memungut sampah, mengolah sampah, memamerkan kerajinan daur ulang).
    1. Pengenalan : “Tera sudah berapa kali Ibu bilang? Jangan ambil plastik dan sebangsanya itu di sungai. Itu kotor nak!” Kata wanita setengah baya yang sangat memperhatikan kesehatan Tera, anaknya yang baru berusia 15 tahun itu.
    2. Klimaks : Kakek meminta Tera untuk mencapai impian kakek. “Kakek ingin membuat pameran” Kata kakek serius “Tolong capai mimpi kakek ya!”.
    3. Konflik : Dengan diri sendiri. ( Tera berjalan santai didepan kios itu. Pikiranya kosong, tidak memikirkan apa apa termasuk alasan mengapa ia tak masuk bersama Ibunya.)
    4. Peleraian : Menemukan selebaran yang menggugah selera Tera untuk membacanya. Ia mengambil dan membaca selebaran yang berisi tentang akan diadakanya lomba pameran antar SMA di sebelah Taman Bungurasih.

    1. Penyelesaian : Tera memenangkan lomba pameran dan mendapatkan piala. Kakek meninggal dunia.

  1. Gaya bahasa :  Majas personifikasi (Matahari begitu bersemangat)
          (Lalu ia (awan) menangis)


NAMA : FIKRI HAIKAL
KELAS : XII-IPA 1

Maaf kan Kasih

Maaf kan Kasih

Sebuah senja yang sempurna, sepotong donat, dan lagu cinta yang lembut. ?Adakah yang lebih indah dari itu, bagi sepasang manusia yang memadu kasih? Raka dan Dara duduk di punggung senja itu, berpotong percakapan lewat, beratus tawa timpas, lalu Dara pun memulai meminta kepastian. ya, tentang cinta.
Dara : Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?
Raka : Kamu dong?
Dara : Menurut kamu, aku ini siapa?
Raka : (Berpikir sejenak, lalu menatap Dara dengan pasti) Kamu tulang rusukku! Ada tertulis, Tuhan melihat bahwa Adam kesepian. Saat Adam tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa. Semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hati.”
Setelah menikah, Dara dan Raka mengalami masa yang indah dan manis untuk sesaat. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan kepenatan hidup yang kain mendera. Hidup mereka menjadi membosankan. Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain.
Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas.
Pada suatu hari, pada akhir sebuah pertengkaran, Dara lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak, “Kamu nggak cinta lagi sama aku!”
Raka sangat membenci ketidakdewasaan Dara dan secara spontan balik berteriak, “Aku menyesal kita menikah! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!”
Tiba-tiba Dara menjadi terdiam , berdiri terpaku untuk beberapa saat. Matanya basah. Ia menatap Raka, seakan tak percaya pada apa yang telah dia dengar.
Raka menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan. Tetapi seperti air yang ?telah tertumpah, ucapan itu tidak mungkin untuk diambil kembali. Dengan berlinang air mata, Dara kembali ke rumah dan mengambil barang-barangnya, bertekad untuk berpisah. “Kalau aku bukan tulang rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan sejati masing-masing. ”

Lima tahun berlalu…..
Raka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu akan kehidupan Dara. Dara pernah ke luar negeri, menikah dengan orang asing, bercerai, dan kini kembali ke kota semula. Dan Raka yang tahu semua informasi tentang Dara, merasa kecewa, karena dia tak pernah diberi kesempatan untuk kembali, Dara tak menunggunya.
Dan di tengah malam yang sunyi, saat Raka meminum kopinya, ia merasakan ada yang sakit di dadanya. Tapi dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan Dara.
Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di airport, di tempat ketika banyak terjadi pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah dinding pembatas, mata mereka tak saling mau lepas.
Raka : Apa kabar?
Dara : Baik… ngg.., apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang?
Raka : Belum.
Dara : Aku terbang ke New York dengan penerbangan berikut.
Raka : Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor telepon kita, belum ada yang berubah. Tidak akan ada yang berubah.
Dara tersenyum manis, lalu berlalu.
“Good bye….”
?Seminggu kemudian, Raka mendengar bahwa Dara mengalami kecelakaan, mati. Malam itu, sekali lagi, Raka mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit di dadanya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah karena Dara, tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya dia patahkan.

“Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal”

Golden Time

Golden Time

“Woy bayar jangan lari lu!!” Hal ini berawal dari satu jam yang lalu. “Udah lu mau pesen apaan aja, pesen sekarang, gua lagi teraktir nih..” Ujar Toni, “Iya tenang aja . Hmmm.... gua mau ini nih, terus yang ini sama yang ini juga oke, lagi ulang tahun ini, gua pesen banyak juga gak apa apa kan?” gua jawab sambil menunjuk ke daftar menu yang bergambar ayam bakar, kentang goreng, dan segelas es teh manis. “Gua yang ini aja sama minumnya ice coffee biar nikmat” jawab Andre. “ Udah ini doang kan?” tegas Toni dengan nada tingginya seperti ia sehabis pulang berkelana keliling dunia sambil membawa uang sekapal penuh. Lalu ia berjalan ke kasir dan memberi daftar yang dipesan.
15 menit kemudian pesanan kami datang “Waah!! Mantap” celetuk gue melihat mewah dan enaknya makanan yang gue pesan, Andre hanya diam kaku melihat pesanannya datang. Toni dengan sombongnya berkata “Mantap-kan makanannya, gratis yah pasti enak.” Lalu kita semua makan dengan lahapnya tanpa sepatah kata pun  terucap di antara mulut kita. Setelah habis makanan kita semua, Toni pergi kekasir untuk mengambil Bon-nya lalu ke meja yang kita duduki, pada saat berjalan kesini Toni datang perlahan sambil memberikan wajah yang pucat putih dan wajahnya yang putus asa seperti ia sedan di ujung hidupnya berkata kepada kita berdua “Eh lu berdua ada duit 30 ribu ga? Gua minjem dulu dong duit gua kurang nih” lalu gua bertanya “emangnya bonnya berapa? Terus duit yang lu punya ada berapa?” dengan cepat Toni menjawab “bonnya 210ribu terus gua cuma punya duit 180 ribu, gimana nih ada yang punya duit lagi ga?” Andre yang dari tadi diam dia berkata “ Gua cuma punya 5ribu nih” Andre memberi uang yang dia punya. Dalem hati gua berkata, bakal repot nih masalah “Ton sorry ya gua ga ada duit” “ Terus bagaimana ini bisa mati kita kalo begini” ucap Toni, Andre member solusi “ Yaudah gini aja taruh aja duitnya di meja dan bonnya juga lalu kita pulang tanpa terjadi apa – apa.” “Wah bagus tuh ide lu ndre” gua jawab. Toni pun melakukan idenya Andre lalu ia berkata “1...2...3... oke jalan” Toni berjalan keluar sambil mendorong kita. Gua yang sedikit takut melihat – lihat kebelakang, menjaga jika ada orang dari rumah makan tersebut mengejar. Tapi setelah itu gua liat ada orang mendekat sambil berteriak “Woy, bayar jangan lari lu!!” Insting alam gua tiba – tiba keluar dan gua refleks lari dengan cepat dan teman – teman gua mengikuti lari menuju gang – gang kecil. Gua paksa kaki gua untuk berlari secepat mungkin dan gua sambil melihat ke belakang untuk berjaga – jaga kalau dia sudah dekat, saat itu gua liat dari kejauhan kalau orang yang mengejar kita tadi itu jatuh ke dalam selokan dan gua hanya bisa tertawa sambil berlari entah kemana bersama teman – teman gua ini. Akhirnya gua dan teman – teman gua ini sudah tidak dikejar, orang yang mengejar kita sudah tidak kelihatan lagi dan saatnya untuk kita berpisah kerumah masing – masing “Toni makasih ya udah mentraktir gua, walaupun duitnya kurang hehe..” ucap gua “Iya Ton makasih ya, gua pulang dulu ya capek nih” ucap Andre sambil menghela nafas nya yang berat karena capek habis berlari dan Andre juga bukan orang yang suka dengan olahraga. “Iya iya makasih juga ya udah meramaikan ulang tahun gua.”

Sore yang indah atau buruk? Gua gabisa menentukannya tapi sepertinya bisa dibilang indah, pepatah pernah berkata “Pengalaman terbaik iyalah pengalaman dengan sahabat yang sama konyolnya denganmu” yah seperti itulah kayaknya pepatah berkata.